Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bisnis, dan Penyakit Menyerah

Oleh: Ita Purnama Sari*)

SETIAP orang pasti punya tujuan dalam hidupnya dan mereka selalu berharap agar dapat mencapai tujuannya tersebut. Namun dalam prosesnya, terkadang kita kerap menemui hambatan yang melemahkan semangat. Tak ayal kemudian, semangat benar-benar luntur.

Pasang surut dalam berbisnis adalah hal yang biasa. Risiko kegagalan akan dialami ketika laju bisnis sedang menurun atau surut. Kegagalan bisnis bahkan sampai bangkrut ini menjadi suatu fase yang seharusnya membuatmu berkembang. Jadi, jangan mudah menyerah ketika gagal dan bangkitlah. Mudah nyerah itu, tak lain dan tiada bukan penyakit dalam sebuah usaha bisnis.

Bagi seseorang yang memulai bisnis, karakter kuat dan pantang menyerah harus tumbuh dalam jiwa calon pengusaha.

Ketika gagal, bangkitlah. Jangan sekali-kali lekas putus asa. Menyerah.

Kisah Ibu Mutia
Terinspirasi cerita salah satu rekannya yang sukses membuka bisnis–Ibu Mutia kepincut ingin belajar berbisnis. Ia pun kemudian mulai merintis usaha.

Berawal dari sekedar cerita teman, dan merasa termotivasi, akhirnya dicobanya oleh ibu Miati membuka usaha kecil-kecilan menjual pulsa di rumahnya di Desa Pengembur Loteng. Dari sinilah keinginan bisnis jualan pulsa, aksesoris dan lainnya kini kian tumbuh. Setelah sekian waktu berjalan, tepatnya pada tahun 2015, hasil jualan terus terkumpul dan setelah modal dirasakannya cukup, ia semakin mantap menjajal dan mengembangkan usahanya.

Advertisement

Dari ke hari-hari, ibu dua anak itu, sembari sebagai ibu rumah tangga, ia menghabiskan sisa waktunya untuk mengelola usahanya. Banyak tantangan dan rintangan datang di tengah ibu Miati mengelola usahanya. Namun demikian, selalu dapat dibendung, pun diatasi sehingga tak sampai mengganggu usahanya. Dan tepat pada tahun 2019 Ibu Miati sudah mampu memiliki tempat usaha yang lebih layak. Sejumlah peralatan untuk mendukung usaha seperti foto copy, printer, alat cetak foto, cetak undangan, transfer antar bank, dan pembayaran BPJS sudah dimiliki perempuan yang kini hidup bahagia bersama suami tercintanya: Bapak Jamil.

Dengan makin bertambahnya, peralatan usaha; pendapatan yang diperoleh Ibu dua anak itu pun mrngalami peningkatan.

Dalam diri setiap pelaku usaha (pedagang/pebisnis), selalu saja ada yang menarik untuk kita semua jadikan motivasi/semangat. Pengalaman penulis bertemu dengan Ibu Miati, bagi dia-dalam bisnis adalah semangatnya untuk tidak cepat menyerah untuk meraih sukses menggeluti usaha yang saat ini dilakukannya.

Salah satu penyakit yang sering menyerang seseorang, dalam menjalankan usaha, bisnis, adalalah: cepat menyerah. Ini penyakitnya.

Tak heran, berkat terus belajar dan pantang mundur, usahnya ibu Miati, tampaknya terus mengalami perkembangan. Masa-masa sulit sudah bisa ia lewati. Tinggal memetik hasil saja. Sukses dan berkah selalu bu Miati.

*) Penulis: Mahasiswi FE Prodi Ekonomi Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB. Sedang belajar menulis.

Editor: Masyhur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *