Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Andi Mulyan*)

Dermaga Penyeberangan Bangsal masih terbalut sunyi. Cahaya langit mulai tampak cerah dengan kebiru-biruan. Deretan bukit anggun di wilayah sekitar tampil mempesona, seolah-olah tersipu menyambut aktifitas seorang petualangan yang pagi itu akan menyeberang ke Gili Trawangan. Demikian pula dengan laut di sekeliling nyaris tak berteriak.

Loket penjualan tiket penyeberangan ke tiga gili mulai aktif melayani para calon penumpang. Silih berganti calon penumpang berurusan dengan petugas loket. Tapi tidak semua calon penumpang itu akan berangkat ke satu tujuan. Sebagian menuju ke Gili Air, sebagian akan ke Gili Menu, dan lainnya ke sebuah gilih yang amat indah yaitu Gil Trwangan. Namun secara administratif, ketiga gili itu merupakan tiga dusun yang dipersatukan ke dalam sebuah desa, yaitu Desa Gili Indah.

Bersama perahu umum, saya menikmati perjalanan laut menuju ke Gili Trawangan. Ini adalah perjalanan saya yang kesekian kalinya menyeberang dari Bangsal hingga ke Gili Trawangan. Tapi walaupun telah berulang kali menjelajah di atas laut, jangtung saya selalu berdebar-debar ketika perahu yang kami tumpangi berhadapan dengan ombak besar.

Mungkin karena pengalaman-pengalaman sebelumnya, ketika menyeberang di kawasan ini saya selalu berhadapan dengan ombak kecil. Padahal, juru mudi dan penumpang lainnya masih tetap tenang, bahkan sebagian mereka bercanda, dan atau menikmati panorama laut yang ada di sekitar.
Mengekplorasi Gili Trawangan dan menjejakkan kaki di kawasan pesisir pantai berpasir putih adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi sang penikmat. Agaknya saya tertular “virus cinta” dari orang-orang asing yang senang menjelajah di berbagai tempat¬†wisata, khususnya yang ada di Pulau Lombok. Soalnya, semenjak saya menginjakkan kaki di pulau Lombok, saya selalu menyempatkan diri untuk menjelajah di berbagai tempat wisata yang ada di pulaui ini. Bukit dan pantai yang begitu indah adalah inceran saya jika ada waktu senggang.

Matahari pagi mulai meninggi di atas Gili Trwangan. Rasa letih terasa pada seluruh otot-otot tubuh. Sebotol air mineral mestabilkan kekuatan fisik saya. Saya pun memilih duduk dan diam di atas pasir putih, seperti yang dilakukan oleh para wisatawan asing. Tapi kedua bola mata saya tetap merekam sudut-sudut keindahan dari pantai berpasir putih yang ada di depan saya.

Air laut bening, hamparan pasir putih tampak keasliannya oleh sinara matahari. Sebagian wisatawan berendam dengan busana pantai. Sebagian pula menikmati keindahan biota laut dengan menggunakan snorkeling dan diving. Di seberang sana, pada air laut yang agak dalam, pemandu diving sibuk menuntun peserta diving di atas boot.

Mereka tentu akan menikmati keindahan bawah laut Gili Trawangan yang rupawan. Mereka tentu akan bercenkerama dengan aneka ragam terumbukarang dan kawanan ikan yang berwarna-warni. “Sungguh indah panorama bawah laut, terumbukarang berwarna-warni dan aneka rupa ikan cantik,” ujar seorang wisatawan asing yang mengakui dirinya berasal dari Australia.

Sejatinya, Gili Trawangan dapat dikelilingi dengan hanya berjalan kaki di sepanjang pesisir pantai. Posisinya benar-benar dikepung oleh tepi pantai yang memiliki warna gradasi hijau dan kebiru-biruan.

Memancing adalah salah satu aktifitas mengasyikkan yang banyak dilakukan oleh pengunjung lokal. Namun jika ingin melakukan aktifitas yang satu ini, lebih menantang jika melakukan pada wilayah laut yang agak jauh dari tepian pantai dengan menggunakan perahu nelayan.

Gili trawangan sungguh ramai oleh wisatawan manca negara. Sebagai tempat wisata yang sudah mendunia, kawasan wisata ini dilengkapi dengan berbagai fasiltas. Berbagai kebutuhan wisatawan di tempat ini dapat ditemukan. Apalagi tempat beristirahat, kawasan ini telah menyediakan klasifikasi tempat penginapan.

Bunga Law, Home Stay, Hotel, atau Villa adalah fasiltas yang sungguh memadai para pengunjung atau wisatawan. Demikian pula untuk kebutuhan makan dan minum, Gili Trawangan menyiapkan warung makan dan minum khusus untuk pengunjung lokal, dan rumah makan atau restoran serta caf yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan manaca negara.

Tat kala matahari sudah hampir senja, saya pun merasa puas menjelajahi Gili Trawangan yang layaknya kepingan surga yang terjatuh di Pulau Lombok. Sejurus itu, saya bergegas mencari tiket penyeberangan menuju Dermaga Bangsal. Saya pun kembali menikmati perjalanan di atas laut, walaupun jantung saya kembali berdebar-debar karena ulah ombak mulai menerjang keras pada perahu yang kami tumpangi.

Tapi Alhamdulillah, juru kemudi masih tenang-tenang saja dan masih tersenyum, sehingga saya pun berusaha untuk tenang, dan akhirnya tiba dengan selamat di Dermaga Penyeberangan Bangsal Lombok.

*) Penulis: Sosiologi UNM Makasar. Juga Dosen UNU NTB. Artikel ini pernah dimuat kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *