Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

NUHANTB-, ilustrasi. Baihaqi Alkawy

“Kalau kecimol dilihat sebagai sebagai pemicu keributan Dan pertikaian sebetulnya hanya asumsi. Sebab Tak hanya keciomol, Gendang Belek Dan Jenis musik lainnya juga berpotensi menggangu

NUHANTB- Tradisi dangdutan dengan kecimol atau alat dorong memang perlu diperhatikan agar tidak mengganggu. Hanya saja kalau berlebihan apalagi bersikap reaksioner terhadap tradisi Kecimol tentu kurang bagus.

Hal itu diungkapkan Aktivis Kelompok Study dan Kebudayaan (KLASiKA) NTB Baehaqi Alkawy. Ia menyatakan bahwa itu termasuk bentuk kekerasan simbolik. “Hentikan kekerasan simbolik terhadap budaya. Itu hanya ekspresi kegenitan yang cenderung berlebihan dari segelintir pihak,”tegasnya.
Kecimol tidak serta merta menimbulkan kekacauan dan pertikaian. Gendang Belek pun berpotensi timbulkan dampak buruk, menggangu arus lintas, terlebih personelnya lebih banyak ketimbang Kecimol. Jadi, kata Baehaqi, kalau dianggap jadi pemicu kegaduhan sebetulnya itu asumsi belaka.
Dikatakannya, persoalan bukan terletak pada kesenian itu melainkan teknis pada kelangsungan acara nyongkolan.
Selanjutnya kritik yang mengatakan bahwa Kecimol bukan budaya Sasak, kepada nuhantb.com Sabtu (9/11), aktivis KLASiKA itu mengatakan, tentu saja keliru.  Padahal Kecimol adalah tradisi yang sejak lama  membudaya dalam masyarakat Sasak dan dihasilkan secara hibrid. Karenanya Kecimol harus dipandang sebagai simbol perkembangan budaya Sasak. Untuk itu, tak boleh ditolak begitu saja, apalagi membawa bawa pemerintah menolak perkembangan budaya. Sebaliknya harus dilihat sebagai perkembangan budaya Sasak. “Kalau gak iya, berati itu cara pikir yang konservatif,” terang mahasiswa magister di salah perguruan tinggi di Yogjakarta.
Karenanya, kata Baihaqi, jika sebagian masyarakat yang hendak menekan Kecimol mesti melihatnya lagi lebih luas. DPR sebagai pembawa aspirasi masyarakat tak mesti bersikap reaktif, melainkan legowo menerima usulan dan kritikan. Harus ada kajian, pendalaman dan diskusi mendalam tentang polemik yang terjadi, kaitan Kecimol.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *