Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

oleh: Yusuf Tanthowi*)

Foto: Tampak pemandangan indah di sekitar kawasan perbukitan Batulayar

KALAU saja tak muncul ide menikmati segarnya Tuak Manis (air nira) di tengah suasana Lombok yang panas – saya mungkin tidak pernah melihat sepotong keindahan dan kehidupan di kawasan Desa Batulayar.
Ide itu lalu direspon oleh sahabat Masyhur. Akhirnya, Selasa (29/11) saya meluncur ke lokasi tujuan. Ia mengajak untuk menikmati air tuak ditempat saudaranya yang baru diturunkan dari gantungannya. Syaratnya kita harus ke sana sebelum waktu sholat Ashar.
Akhirnya berangkat lah kita sekitar jam 14-san di tengah terik mentari dari Mataram. Kami naik dari arah Barat melalui Dusun Melase – jalan samping kantor camat Batulayar. Kalau yang datang dari arah timur bisa melalui Dusun Bengkaung, Gunungsari, Lombok Barat.
Sebelum Ashar kami sudah sampai di berugak milik saudaranya Mashur di Dusun Paok Lombok. Tak lama duduk langsung disuguhkan kopi hitam – khas jamuan orang Lombok pada setiap tamu yang datang bersilaturrahmi kerumah.

Tak sampai setengah jam, keluarga Mashur yang juga guru ngaji dikampungnya itu izin pergi ke kebun mengambil air tuak dari pohon menggunakan jerigen dan botol. Dalam sehari tuak manis bisa diambil dua kali, pagi dan sore. Hasilnya lalu dioleh menjadi gula merah. Harganya akan jadi tinggi jelang bulan maulid.
Ngobrol di atas berugak ditemani tuak manis memang sungguh nikmat. Diberikan oleh-oleh tiga botol lagi untuk dibawa pulang. Sungguh tak pernah terpikir sebelumnya. Kita obrolkan kelangkaan air di kawasan Batulayar, khususnya bagi warga yang tinggal di daerah atas. Mereka harus mengangkut air dari mata air jarak ratusan meter. Itu pun debit airnya kecil.

Gali air pakai bor dalamnya sampai ratusan meter kebawah. Makanya Pemda Lombok Barat kerap drop air pakai mobil yang dikawal polisi. Ketika kami duduk datang beberapa anak kecil dan orang tuanya membawa air pakai Jerigen untuk anaknya wudhu dan ngaji malam hari.

Satu tips sebelum minum tuak manis. Kesegaran rasanya akan sangat nikmat kalau sebelum diminum terlebih dahulu disimpan difrazer-kulkas. Kalau kena panas dan guncagan akan tumpah dari botol. Kalau diminum pakai es, itu artinya ada tambahan air sehingga tidak murni airnya. Kalau yang murni rasanya sssgt… ditenggorokan. Yang jual dijalan, kadang ada yang nakal campur pakai air kelapa.

Selama ini saya dan mungkin banyak orang melihat tidak ada kampung dikawasan gunung-gunung di Desa Batulayar. Pandangan kita ditutupi oleh hotel, cafe dan tempat hiburan yang mayoritas dikuasai oleh pemodal besar dari luar.

Ternyata digunung-gunung yang nampak dari jalan Raya Sengigi itu terdapat banyak kampung. Kiri kanan jalan banyak berdiri villa-villa milik bule. Dari villa yang dibuka untuk umum sampai private. Apa lagi sekarang jalan aspalnya mulus, menanjak, menurun dan meliuk-liuk.
Wajar kalau Pemda Lombok Barat pernah membuat even sport taurism Penanggak Road Hill 10 Kilometer, Juli 2019 lalu. Konon ada sekitar 500 orang peserta dari dalam negeri dan luar negeri yang ikut menjajal jalan yang membelah gunung-gunung kawasan Batulayar dan Gunungsari.

Bila sahabat suka mencari spot-spot cantik untuk berfoto dan selfi ria dengan teman-teman, saran saya tempat ini bisa dicoba. Banyak spot-spot indah perpaduan alam, warga dan tradisi bisa dicoba. Sepanjang jalan itu bisa dieksplor tentu dengan gaya dan sudut yang berbeda-beda. Kalau kamera dan tehnik mengambilnya bagus, saya percaya teman-teman tidak akan kecewa berkunjung ketempat ini.

Dari cerita tuak manis itu – satu hal saya belajar bahwa ide itu memang menggerakkan. Dengan ide kita melangkah dan bergerak kearah tujuan (goal) yang kita inginkan (impikan). Tantangan kita, bagaimana mengawal dan fokus bergerak menjemput impian kita.
Ada orang mengatakan ide tidak bisa jadi uang, ide tidak bisa membuat kita kenyang. Ya wajar, dikiranya ide itu sepotong roti yang siap disantap. Ia tidak menyadari bahwa ide itu energi dan tenaga penggerak supaya perut bisa kenyang.
Ah, alam memang sering kali menjadi guru terbaik sobat. Keindahan pemandangan dari atas bukit Penanggak disore hari dan kesegaran air tuak yang baru turun dari pohon itu menghapus panasnya.

*)Penulis adalah Traveler, Penyuka Kuliner. Dikenal juga Aktif menggerakkan Pemuda NU.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *