Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Wakil presiden H Makruf Amin, saat memberikan sambutan dalam kegiatan peresmian Bank Wakaf Mikro (nuhantb, ilustrasi)

 

NUHANTB–Kemiskinan memang tak bisa dihilangkan. Di negara negara maju pun kemiskinan telah menjadi persoalan akut. Tak pelak berbagai upaya dan strategi dilakukan oleh pemerintah. Banyak program-program pemerintah yang diluncurkan. Banyak upaya dan pendekatan yang dilakukan yang bertujuan untuk membendung persoalan kemiskinan.


Berdirinya berbagai lembaga keuangan nonbank, adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan, meskipun belum bisa sepenuhnya masyarakat tidak hidup miskin, salah satunya Bank Wakaf Mikro (BWM).
Bank Wakaf Mikro sendiri adalah sebuah Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang berfokus pada pembiayaan masyarakat kecil, dan dalam hal ini, OJK bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) dalam membentuk LKMS.
Menurut Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin Bank Wakaf Mikro bisa menjadi salah solusi untuk menangani masalah kemiskinan yang dimulai dari pesantren.
Kenapa pesantren? Lanjut Kiyai Makruf, sebab pesantren tidak hanya menjadi pusat untuk menyediakan para kiyai, para ulama tapi juga tempat untuk penguatan umat, pemberdayaan umat terutama di bidang ekonomi untuk menghilangkan kemiskinan.
Hal itu disampaikan Kiyai Makruf dihadapan ratusan jamaah saat meresmikan Bank Wakaf Mikro Ahmad Taqiyuddin Mansyur (ATQIA) di Ponpes NU Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan, Kamis 20 Februari 2020.
Implementasi bahwa pesantren bisa menjadi kekuatan, sebenarnya bukan barang baru, tetapi pernah dipraktekkan para pendahulu bangsa seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah juga para kiyai yang lainnya. KH Sahal Mahfud juga disebut sebut sebagai salah satu kiyai yang getòl menyuarakan dan membangkitkan pesantren sebagai kekuatan ekonomi ummat.
Hal ini kemudian senada dengan yang disampaikan Wapres Kiyai Makruf.
Beliau mengungkapkan pesantren tidak lagi hanya menjadi pencetak ulama, namun juga harus mengambil peran dalam penuntasan kemiskinan dengan program-program yang telah ada.
“Kiyai mencontohkan program yang sedang dikembangkan di Jawa Timur berupa One Pesantren One Product (OPOP) dan One Village One Product (OVOP),” terangnya.

“Pesantren harus mengambil bagian tidak hanya menyediakan kiai, tapi menjadi pusat pembiayaan ekonomi, bahkan menjadi pusat penyiapan tenaga-tenaga terampil dengan adanya pusat latihan kerja yang sudah ada di sini,” imbuh dia.
“Karenanya Bank Wakaf Mikro yang baru saja diresmikan dapat berkembang pesat agar mampu membawa manfaat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” harapnya.
Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa Bank Wakaf Mikro Ahmad Taqiyuddin Mansyur (ATQIA) ini adalah bank wakaf Mikro ke-56 yang telah didirikan.
Dikatakannya, Pendirian Bank Wakaf Mikro ini bermula satu tahun yang lalu dengan niatan untuk menyentuh masyarakat yang terhitung memiliki pendapatan rendah dan sasaran utamanya adalah masyarakat bawah dan pondok pesantren.
Sistem operasional berlandaskan prinsip syariah. Kegiatan bank wakaf mikro berupa pembiayaan dan pembinaan untuk masyarakat yang belum memiliki usaha dan yang sudah memiliki usaha namun belum berkembang. Bank wakaf mikro ini lebih menekankan pembinaan dalam kegiatannya.
Lebih jauh dikemukakan Wimboh bahwa hal yang sangat penting adalah pembinaan, pembinaan ini bukan hanya sekedar pembinaan untuk yang belum punya kegiatan ekonomi agar mempunyai kegiatan ekonomi, namun juga yang sudah memiliki kegiatan ekonomi kita bentuk menjadi lebih besar.
Masyarakat tentu berharap, usai diresmikan pemerintah, keberadaan BWM mampu menghadirkan iklim aktivitas ekonomi yang syarat nilai nilai religius. Peran pesantren sangat strategis untuk terus memberikan dukungan terhadap hal hal yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi ummat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *