Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kursi Roda, Teman Berjuang Papuk Rohani
(salah satu Pedagang di PP Al-Mansyuriyah Taklimussibyan Bonder Loteng)

Oleh : Dia Kurniawati*)

 

PAGI yang indah menyapa. Seperti halnya santri-santri di pesantren-pesantren yang lain; mengaji kitab, al-Qur’an dan lainnya, selalu memadati rutinitas setiap santri. Sedari fajar hingga malam. Saya juga begitu, seperti biasa saya lalui hari-hari dengan melangkahkan kakiku menuju tempat pengajian.

Satu jam berlalu, pengajian pagi pun berakhir. Sebagai seorang santri yang masak sendiri, maka secara otomatis tak ada kenyang sebelum masak. Namun, satu hal yang sangat saya-(termasuk juga santri-santri yang lain) selalu kami syukuri adalah karena di areal pondok terdapat sebuah warung kecil yang dikelola oleh ibu dari pengasuhku. Namanya Papuk Rohani–begitu beliau biasa disapa santriwan santriwati.

Dia Kurniawati, mahasiswa Fakultas Ekonomi Prodi Ekonomi Islam pada saat berdiskusi dan wawancara bersama Papuk Rohani dalam kegiatan praktik Mandiri

Beliau dikenal ramah dan murah senyum dengan tutur kata yang baik oleh para santri. Beliau mulai bergelut di dunia usaha (berdagang ) sekitar awal-awal tahun 2001. “Saya mulai jualan sejak tahun 2001” tutur Papuk Rohani.

Hanya dengan modal kecil dan dibekali keikhlasan yang mendasar, Papuk Rohani membuka usaha dagangnya di rumahnya, tepatnya di antara asrama santriwan dan santriwati PP Al-Manshuriyah Taklimussibyan.

Papuk Rohani mulai usahanya dengan satu juta, saat saya Papuk Rohani, berapa modal awal untuk membuka usahanya?

Di warungnya yang sederhana, Nenek Rohani mulai menjual nasi bungkus untuk memenuhi kebutuhan pangan para santri. Dengan harga terjangkau, beliau mematok harga satu porsi nasi bungkusnya dengan harga yang ramah untuk kantong para santri. Yakni dengan mengeluarkan uang Rp. 3.000 para santri dapat menikmati seporsi nasi bungkus nenek Rohani. Tidak hanya itu, untuk para santri yang tidak punya uang untuk membeli nasi bungkus, beliau dengan senang hati membolehkan santriwan-santriwati ngutang.

Dengan suara parau, Papuk Rohani bilang, “Namanya juga santri, terkadang belum dianter (dijenguk) sama orang tuanya. Mungkin uang belanjanya habis. Saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi santri”.

Rupanya Papuk Rohani tidak keberatan sama sekali jualannya dihutang para santri.

Hari berganti minggu, bulan ke tahun, beliau terus istiaqomah melakukan aktivitas sehari harinya, yakni berjualan. Tak terasa dan juga tak pernah terbayang sama sekali, Papuk Rohani, baru sadar bahwa usaha yang dilakoninya sudah puluhan tahun, modal yang beliau punya meningkat sedikit demi sedikit. Berkat ada tambahan modal, perempuan yang ditinggal suaminya 2003 silam, menambah jenis dagangannya.

Tak hanya Nasi, di warungnya Papuk Rohani juga menjual pecel, Lontong (sejenis ketupat, namun menggunakan bungkus daun pisang), pelecing, pisang goreng, Es, dan berbagai jenis lainnya seperti beragam Snack. Dan lebih uniknya lagi.

Selain memberi keleluasaaan pada santri yang belum punya uang untuk bayar, Papuk Rohani juga kerapkali memberi secara percuma kepada para santri apabila memiliki rezeki yang lebih.

Namun, pada tahun 2018, beliau jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Umum Praya. Ketika beliau dirawat di rumah sakit, beliau dinyatakan lumpuh. Namun, selama dua minggu beliau dirawat, warung beliau tetap berjualan. Biasanya, beberapa orang santri yang membantu untuk menjaga warungnya.

Sepulang dari rumah sakit, beliau harus mengenakan kursi roda sebagai bantuan berjalan. Dengan keadaannya yang tidak sama seperti sebelumnya, beliau tetap berjualan nasi untuk memenuhi kebutuhan para santri, walaupun beberapa usahanya seperti berjualan pecel, pesor, dan plecing harus terhenti.

Papuk Rohani membuka warungnya mulai dari jam 07.00 am sampai jam 23.00 malam.

Namun, semenjak Covid-19 ( virus corona) masuk ke tanah air dan menyebar ke banyak tempat, banyak santri yang pulang meninggalkan pondok, sehingga pendapatan Nenek Rohani menjadi berkurang.

Harapan beliau, semoga Covid-19 cepat berlalu dan semua santri kembali lagi ke pondok supaya warungnya juga kembali ramai.

Terkadang, orang sering ragu menjadi pengusaha karena terkendala oleh modal. Baik modal materi maupun kemampuan bisnis. Namun, keraguaan itu harus dilawan untuk mencapai kesuksesan.

Siapa sich Papuk Rohani itu? Sejumlah informasi tentang sosok perempuan yang jualan di Ponpes, yang sebelumnya diasuh TGH Taqiudin Mansyur (almarhum), lahir dari keluarga sederhana, kemudian menikah dengan salah satu putra pengasuh pondok pesantren. Perempuan yang usianya cukup sepuh itu, ditinggal suaminya, Ustaz Efendi Muzakki pada tahun 2003 silam. Pernikahan Papuk Rohani dengan suaminya, dianugerahi 3 putri dan seorang putra, namun sang putra telah kembali ke pelukannya.

Papuq Rohani (65 tahun), begitu sapaan akrab yang biasa dilontarkan ratusan santri NU PP Al-Mansyuriyah. Beliau tinggal di Dusun Sangkong, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tepatnya, beliau tinggal di PP Al-Manshuriyah Taklimussibyan.

Banyak hal menarik bisa menginspirasi kita tentang pahit manis usaha. Terlebih di tengah usia yang kian senja, perempuan yang putranya berprofesi menjadi guru itu, untuk kemana-mana harus menggunakan kursi roda.

Papuk Rohani termasuk orang yang jujur, ramah. Semampunya, ia berusaha untuk memberikan bantuan kepada santri santri yang kelak di kemudian hari akan mengingatnya. Juga mendoakan. Sehat dan panjang umur Papuk Rohani.

*) Penulis: Mahasiswi Fakultas Ekonomi, Prodi Ekonomi Islam UNU NTB.

Editor: Masyhur (Dosen Pengampu)

 

One Reply to “Kursi Roda Teman Berjuang Papuk Rohani”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *