Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Manajemen Kelas, Daya Dorong, dan Motivasi Belajar Siswa di Era Global

Oleh: Solehah*)

Dewasa sekarang ini kita menyaksikan bersama bahwa tantangan dunia penidikan sangat besar. Tidak hanya model manusia yang berubah tetapi model pendidikan juga berubah seiring apa yang menjadi kebutuhan manusia.

Manusia hari ini sangat bergantung dengan tekhnologi, bahkan sampai ada yang mendewakan tekhnologi. Ketergantungan manusia kepada teknologi membuat model pembelajaran semakin berbeda. Seriring berjalan waktu maka kemauan manusia dan kebutuhannya harus dibarengi dengan fasilitas penunjang agar bisa menjadi pembanding.

Dunia pendidikan sejalan dengan dinamika dan perkembangan. Mengapa demikian? Tak lain, tiada bukan; trend yang muncul kepermukaan adalah bahwa pendidikan harus mengutamakan kebutuhan manusianya.

Kebutuhan manusia akan pendidikan sangat disesuakian dengan zaman yang ada. Termasuk di dalamnya adalah model pembelajaran dalam kelas, manajemen kelas, bagaimana memotivasi siswa dan lainnya. Keadaan ini menuntun kita semuanya agar lebih ekstra kerja keras dalam menyampaikan materi ajar agar siswa sebisa mungkin langsung bisa merasakan sentuhan guru dalam kelas.

Selama ini kita melihat ada jarak yang memisahkan murid dan guru dalam kelas sehingga terjadi perbedaan persepsi antar murid dan guru. Seharusnya guru sebelum memulai pembelajarannya agar terlebih dahulu menyiapakn strategi dan menajemn kelas yang menyenangkan sehingga semua murid merasa sangat bahagia saat berada dalam kelas.

Manajemen kelas hari ini sangat diperlukan oleh dunia pendidikan karena melihat fenomena surutnya ghirah belajar. Pun ditambah lagi massifnya dunia gedget, handphone dan perangkat canggih lainnya membuat siswa kian malas.

Guru dan dunia pendidikan harus sudah mulai manajemen dengan baik, pengelolaan kelas, siswa dan metode pembelajaran agar siswa tak jenuh. Juga bosan belajar. Sehingga keinginan kolektif bisa membuat–tak hanya cerdas, tetapi juga berahlak.

Dengan demikian, tak pelak, manajemen kelas mesti disejajarkan dengan kebutuhan peserta didik, agar siswa bisa merasakan suasana kelas yang terbalut ‘suasana menyenangkan’ ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung. Jika hal ini dilakukan, diyakini akan dengan mudah melihat perubahan yang terjadi dalam pengelolan manajemen kelas yang baik.

Lebih jauh dikemukakan, kadang kita melihat secara sepintas an sich problem yang dialami murid dan guru selama ini. Sehingga kita merasa benar sendiri tanpa menghiraukan mereka yang telah berbuat dengan segala tenaga dan pikirannya.

Bahwa selama ini kita harapkan sesuatu yang efektif dari proses pendidikan peserta didik itu suatu hal positif. Sayangnya, kita kerap alpa: pendidikan tidak bisa dilihat hasilnya secara langsung. Tetapi melalui proses dan waktu yang relatif panjang, agar bisa melihat hasilnya secara nyata. Hanya mungkin terjadi bila proses ini berjalan maksimal dan kebijakan yang memihak (dunia pendidikan) dengan seluruh elemen di dalamnya (siswa, manajemen kelas). Juga proses KBM yang dirancang sedemikian baik untuk meniti sukses masa depan dunia pendidikan.

Mimpi masyarakat anak bangsa, wabil khusus orang tua–melalui institusi pendidikan yang bisa menghasilkan output berkualitas bagi anak-anak dan generasi penerus bangsa–dengan demikian bukan hanya mimpi di siang bolong. Sebaliknya, menjadi harapan dan pemantik optimisme yang tak pernah redup.

Hanya saja, kita tak bisa berjalan sendirian. Semua harus saling mendorong, memberikan dukungan dan support untuk membangun pendidikan sebagai–kawah candra dimuka-(meminjam kalimat Prof Mastuhu, pakar pendidikan UIN Jakarta) terlebih di tengah trend globalisasi yang kini bergeser dan mengejewantah sebagai revolusi industri 4.0.

Cara-cara sederhana, banyak hal yang bisa kita lakukan guna membangkitkan spirit belajar; antara lain misalnya mengajak mereka mengenal alam sekitar atau melihat secara langsung realitas kehidupan yang tak pernah statis namun dialektis. Pengalaman langsung ini dipastikan menambah spirit peserta didik.

Oleh karenanya mari kita bersama -sama membangun bangsa yang besar ini dengan membangun manusia yang memiliki karakter Taqwa pada Tuhan YME. Juga memiliki karakter budaya religius. Hal ini kemudian relevan dengan amanat UU: “Pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia”.

Manusia yang tidak hanya otaknya saja yang cerdas tetapi yang cerdas spriritualnya juga agar bisa menyeimbagkan mereka dalam memahami tujuan hidup ini.
Jika kita telah bersama memberikan semangat kepada anak-anak kita dalam menempuh pembelajaran maka kita harus yakin bahwa semua anak Indonesia adalah anak yang baik dan anak yang bisa diandalkan buat kemajuan bangsa dan Negara ini. Singkat kata, orang tua, guru, pemerintah dan peserta didik harus mampu disatukan dslam visi dan misi besar pendidikan untuk Indonesia maju.

Digitalisasi dan Perubahan Besar

Digitalisasi berimbas pada terjadinya perubahan besar dalam dunia pendidikan. Ada trend yang menarik dalam pendidikan hari ini.

Jika dulu, biasanya proses pembelajaran dilaksanakan sistem klaksikal, kini bergeser ke sistem digital (daring). Akibatnya, acap kali berdampak pada motivasi anak didik dalam belajar. Memang, kondisi ini, tak terelakkan. Menghadapinya, tentu harus direspon, bukan malah ditakuti. Jika menjadi sebuah ketakutan, justru masyarakat akan ‘ketinggalan kereta’.

Untuk itu, kita dan masyarakat belajar menyiapkan diri, juga anak didik agar peka dan tanggap berhadapan dengan kemajuan.

Seharusnya Era digitalisasi yang didengung-dengungkan sebagai jelmaan revolusi industri 4.0 harus bisa dimanfaatkan sebagai sebagai peluang dan sesuatu yang positif terhadap kemajuan dunia pendidikan kita. Banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran lewat sistem digital ini yang bisa menjadi elan vital kemajuan pendidikan.

Merebaknya Covid-19 yang akhir-akhir ini masih menimpa masyarakat global dan entah kapan akan berakhir, tampaknya menjadi pembelajaran positif betapa canggihnya teknologi bisa dijadikan inatrumen untuk terus bergiat dalam upaya mendidik dan mencerdaskan anak bangsa di tengah kesulitan melakukan KBM selama masa pandemi. Meski belum sepenuhnya maksimal, namun tetap bisa menjadi ikhtiar bersama untuk tidak berada dalam kevakuman.

Dalam konteks yang demikian juga, maka pengelolaan manajemen kelas (class management) semakin perlu dikonsep agar jelas peta jalan (road map) pendidikan.

Yang pasti bahwa keadaan yang terus berubah, zaman yang terus berkembang yang mana di era ini hampir semua terakomodir dalam digitalisasi dan mungkin juga di masa-masa yang akan datang (kondisinya jauh melampui) harus difahami sebagai sebuah peradaban kemajuan dan ikut serta mewarnai kemajuan dalam berbagai bidang, terutama sekali dalam dunia pendidikan.

Alhasil, realitas perkembangan yang kita hadapi ini bukan malah sebagai sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang sangat berarti; positif bagi dunia.

Semoga perkembangan IPTEK yang sedemikian tumbuh ini terus menggiring semangat membangun. Kata lainnya, era digital bisa menjadi sesuatu yang membakar semangat untuk pendidikan. Iya pendidikan. Sebuah warisan peradaban yang bisa menjadi spirit bagi pendidikan.

*) Penulis: Mahasiswa Jurusan Tadris Matematika UIN Mataram. Artikel ini pernah tayang di Radar Lombok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *