Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MAMPIR DI WARUNG PLECING KANGKUNG BU NURHASANAH (Menyulap Tempat Sampah, Jadi Lokasi Jualan)

Oleh: Meliza*)

LOKASI yang kini ramai pengunjung yang antrean membeli plecing Kangkung, dulu dipenuhi tumpukan sampah”

Meliza, salah satu mahasiswi Prodi Ekonomi Islam, usai diskusi tentang aktivitas usaha dalam kegiatan praktik mandiri

SUATU hari, entah hari apa dan tanggal berapa, aku lupa. Saat itu, seorang temen menelponku. Dia meminta bantuanku, agar Aku ke kostnya.
Tasya namanya.
“Meliza nanti ke kos ya?
“Mmm kenapa ?
“Aku lapar belum makan di luar banyak orang “
“Owh yayaya nanti aku ke ke tempatmu. Tapi agak lama. Aku masih ada kuliah,” jawabku.
“Iya yak apa”.

Begitu selesai kuliah. Dengan langkah buru-buru, Saya pulang. Kuterobos jalan menuju kost Tasya. Di tengah perjalanan, tak sengaja ku menoleh, tempat kerumunan orang. “Ramai juga di tempat itu, ada apa ya?,” pikirku.
Mengusir rasa penasaran, Aku mendekat.
Oh ternyata orang jualan. Ada warung di situ. “Sekalian saja, beli nasi buat temenku Tasya,” ujarku.
Begitu semakin dekat dengan lokasi jualan yang ramai itu, ternyata, si ibu pemilik warung itu gak jualan nasi. “Kukira ibu itu jual nasi bungkus,” gumamku.

Iklan

Ibu Nurhasah nama penjual itu. Ia berjualan Plecing Kangkung di sekitar lingkungan Dasan Agung Kecamatan Selaparang Kota Mataram.
Pelecing Kangkung milik Ibu Nurhasanah, adalah usaha turun temurun di keluarganya. Dulu usaha tersebut milik neneknya, yang kemudian dia ambil alih.

Kali pertama jualan, sekitar tahun 2010, lokasinya hanya di rumah. Melihat prospek jualan kian terbuka lebar, Bu Nurhasanah bersama pedagang lain berinisiatif pindah lokasi.

Kebetulan saja, ada lahan kosong. Tapi sayangnya dimanfaatkan warga untuk membuang sampah. Tapi, tak lama kemudian, bersama warga mereka melakukan berbagai pendekatan dan komunikasi untuk menempati lahan kosong yang dipenuhi tumpukan kosong itu. Dan kini, lokasi yang dulu dijadikan warga sebagai tempat buang sampah menjadi lokasi jualan warga Dasan Agung
tepatnya di lingkungan Darul Hikmah Selaparang Kota Mataram.

“Iya dulunya tempat buang sampah. Saya dan beberapa warga berfikir bahwa tempet ini bagus dijadikan tempat jualan,” ujar istri Mayadi itu.

Bagi saya, menyulap lahan yang dulu hanya dimanfaatkan terbatas pada tempat buang sampah, lantas dijadikan sebagai jualan merupakan suatu hal yang positif. Atau sebutlah: sesuatu yang produktif. Barangkali ini ada kaitannya dengan salah satu hadist nabi yang menyatakan : Barangsiapa menghidupkan tanah yang mati, maka baginya pahala tanah itu. Dan segala apa yang dimakan makhluk dari tanamannya, maka itu merupakan sedekah.

Secara eksplisit, keterangan baginda tersebut seolah mendorong ummatnya untuk kreatif sekaligus produktif dalam segala hal.

Lahan tersebut cukup strategis untuk dijadikan lokasi jualan. Selain itu juga cukup luas.

Yang lebih bagus lagi, lokasi tersebut, tidak diberikan secara cuma-cuma, tetapi dikenakan beban sewa. Uang sewanya dimasukkan ke kas Masjid. Hal tentu sangat jauh lebih bermanfaat. Terkait beban saya, saya menilai bahwa sewa yang dikenakan dimaksudkan sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Lebih jauh dijelaskan, aktivitas Bu Nurhasanah cukup dinamis. Hal ini tidak terlepas dari lokasi jualan yang strategis.
Mengenai waktu jualan, bu Nurhasanah keluar untuk jualan mulai dari pukul 09.30 hingga 17.00 5.

Ia juga cerita, dagangannya lumayan laris. “Baru buka saja kita sudah ada yang antre untuk beli,” terang Nurhasanah.

Betul juga, penulis sendiri saat mampir beli, ngantri lumayan lama. Yang belanja lumayan, pegawai kantor, anak kos/kuliah. Jadi langganan bu Nur, beragam.

Dalam berjualan, bu Nurhasanah tak bekerja seorang diri. Ia di bantu oleh adikya. Mengenai penghasilan, kadang sehari ia bisa memperoleh 700 ribu sampai satu juta. Dan dalam sebulan ia bisa mendapatkan sekitar 20 juta bahkan lebih. Namun demikian, Bu Nur mengakui bahwa hasil jualan juga tergantung kondisi.

Kepada penulis, ibu Nur tidak banyak mengalami kesulitan walaupun ada saingan, pedagang banyak. Baginya, kompetitor itu biasa, selalu ada. “Yang penting kita jualan, berusaha pasti ada jalan dari yang kuasa (rizki sudah diatur sang kuasa kita tinggal menjalaninya),” tuturnya senyum.

Satu yang khas dari Plecing Kangkung Bu Nur, yaitu kekhasan rasa sambel Plecingnya. Ini yang saya belum temukan di tempat yang sekian banyak pernah saya kunjungi.

Hindari Menghutang Kalau Mau Buka Usaha

Dalam jualan Bu Nur juga mengimplementasikan etika bisnis prinsip jujur dan santun; mengutamakan kebersihan lingkungan dan juga ramah pada pembeli.

Nah, bagi untuk anak muda yang mau terjun ke dunia usaha, jangan takut. Berdasar pengalamanya, ia bilang “Modal sedikit tidak apa-apa yang penting jangan BERHUTANG. Jika kita membangun bisnis dengan cara ngutang, seolah yang kita perjuangkan itu, atau kita cari uang bukan untuk diri sendiri, tetapi bank/(rentenir)”.

Aktivitas jualan Bu Nur, dikaitkan dengan situasi saat sekarang ini, akibat Corona/ Covid-19 yang tak hanya menjadi isu melainkan benar-benar terjadi, bahkan sudah mendunia, Bu Nur tidak menampik, penghasilan jualan turun drastis.

*) Penulis: Mahasiswa Fakultas Ekonomi prodi Ekonomi Islam UNU NTB

 

Editor:Masyhur (Dosen Pengampu)

One Reply to “Menyulap Tempat Sampah Jadi Lokasi Jualan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *