Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pasangan Setia Penjual Jajan Tradisional (Jaje Renggi)

Oleh: Hamzan Wadi*)

Hamzan Wadi, Mahasiswa FE Prodi Ekonomi Islam UNU NTB

Pernah dengar sebutan Jaje Renggi? Jaje Renggi adalah salah satu makanan tradisional khas yang dimiliki Indonesia, salah satunya berada di pulau Lombok.

Jaje Renggi adalah jajanan yang terbuat dari ketan, serta gula merah sebagai pewarna dan pemanis. Cara membuatnya, pertama, beras ketan direndam selama 3-4 jam kemudian diangkat dan ditiriskan. Kedua, beras ketan dikukus sampai matang. Setelah matang kemudian diangkat dan dipindahkan ke wadah kosong. setelah itu, ketan yang sudah dikukus tadi dicampur dengan gula merah yang sudah dicairkan lalu dikukus kembali sampai siap untuk dicetak di atas daun pisang atau kertas minyak kemudian dijemur hingga kering di bawah sinar matahari menggunakan Kelabang atau anyaman bambu sampai siap digoreng. Selain Jaje Renggi masih banyak makanan khas Lombok lainnya yang tentu saja rugi bagi pelancong yang tak sempat mencicipinya.

Keberadaan Jajanan tradisional di masing-masing daerah, dalam konteks sosial ekonomi membuka peluang usaha bagi setiap penduduknya. Dengan adanya peluang tersebut, banyak warga masyarakat yang bisa mengambil manfaat, sehingga memberi nilai tambah dari segi ekonomi.

Jenis Jaje Renggi yang diproduksi HJ Mayuyani

Pun kemudian menghendaki sebagian warga masyarakat kita untuk bekerja dan melakukan aktivitas sosial ekonomi. Dalam pada itu, hasilnya pun dapat kita gunakan untuk memenuhi kebituhan hidup sehari-hari.

Kita hidup di altar dunia ini bukan sehari dua hari saja kita butuh makan dan segalanya didunia ini. Oleh karena itu, kita harus berjuang untuk menyambung hidup. Berbagai macam pekerjaan ada untuk menyambung kehidupan kita, dan tergantung kita mau pilih pekerjaan yang halal atau yang haram. “Seribu satu macam cara mencari makan,” demikian bunyi syair lagu penyanyi kondang Rhoma Irama.

Jaje Renggi, adalah jajanan khas Lombok yang mempunyai cita rasa gurih serta sedikit manis. Biasanya, ketika perayaan hari besar seperti Maulid Nabi dan hajatan pernikahan maupun khitanan, kehadiran Jajan Tradisional tersebut seakan menjadi menu pewarna yang wajib ada.

Jajanan ini cukup mudah ditemui terutama sekali di Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah. Hasil informasi yang didapat penulis, di desa Pandan Indah, biasanya Jaje Renggi banyak diminati. Pun kemudian selalu tersedia setiap hari.

Salah satu penjual yang terkenal di desa itu adalah Jaje Renggi ibu Hj Mayuyani. Usaha membuat Jajan itu sudah cukup lama digelutinya.

Meski sudah lumayan berumur, Hj Mayuyani masih semangat berkreasi membuat Jaje Renggi. Dalam konteks ini, sepertinya sebagaimana ungkapan yang biasa kita dengar, “Usia boleh jadi tua tapi semangat harus tetap muda”.

Tampaknya spirit ungkapan itu, cocok juga disematkan pada perempuan–sosok istri dari H. Maarif itu.

**

Aktivitas membuat Jaje Renggi, dilakukan Hj Mayuyani itu, guna untuk membantu perekonomian keluarganya. Beliau harus bekerja untuk menyambung hidupnya.

Sebelum pasangan setia Hj Mayuyani dan Bapak H Maarif itu membuka usaha, keduanya hanya seorang petani. Namun karena mereka sudah tua dan tak kuat lagi bekerja di sawah, cara selanjutnya yang bisa beliau lakukan adalah berjualan Jaje Renggi.

Ingin menikmati Jaje Renggi, mudah. Tak perlu pusing. Monggo mampir ke rumah Mayuyani, di dusun Mengkoneng desa Pandan Indah. Mengenai harga, jangan kuatir, terjangkau dan sesuai isi kantong; dari harga Rp 10.000 hingga Rp 15.000 ribu, anda sudah bisa memperoleh 4 buah Jaje Renggi. Sekiranya butuh banyak maka kita perlu memesan terlebih dahulu untuk dibuatkan karena jumlah yang dibutuhkan lebih banyak daripada stok yang tersedia.

Penghasilan jualan Jaje Renggi, menurut ibu empat anak itu, cukup. Bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pendapatan Rp 1.000.000 bisa ia dapatkan dalam waktu yang tidak begitu lama. “Alhamdulillah dari jualan jaje renggi ini kami masih bisa melanjutkan hidup kami,” ujarnya pada penulis saat sua di kediamannya, Selasa (31/3).

Mengenai aktivitasnya sehari-hari menjalankan jualan Renggi, selain melakukannya sendiri, juga dibantu keluarga dan tetanggganya.

Bagi Hj Mayuyani, jika seorang ingin sukses, bekerja dan berjuang; sebuah keharusan. Kesuksesan ada di tangan anda, bukan orang lain.

Untuk mendapatkan sesuatu, seseorang tidak boleh hanya diam menopang dagu, melainkan terus berusaha. Hidup tak semudah membalikan telapak tangan tetapi dengan telapak tangan kita dapat merubah hidup kita jauh lebih baik lagi”.

Tentang bagaimana jualan, Hj Mayuyani tampaknya senantiasa melakukan cara -cara yang relevan dengan anjuran agama. Beliau ramah juga murah senyum. Sebuah sikap yang memang mutlak dimiliki semua pedagang. Karena dengan keramahan dan murah senyum maka pembeli yang datang pun merasa nyaman dan senang hal ini bisa bernilai ibadah bagi kita yang mempraktekannya. Barangkali hal inilah yang membuat konsumen terus ramai dari berbagai tempat.

Salah satu sikap yang wajib dimiliki oleh seorang pedagang adalah sikap ramah terhadap pembelinya. Ada hadist baginda nabi: “Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seseorang yang tidak bersikap ramah dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” ( HR Thabrani dan Daruquthi, dari jabir RA).

Dari hadist di atas mengajarkan kita untuk selalu bersikap ramah dalam kehidupan sehari-hari baik kepada sesama muslim maupun non muslim karena Allah tidak membeda-bedakan umatnya masa kita sebagai umatnya saja membedakan. Sikap ramah itu harus selalu kita jaga dan menjadi hal yang mutlak kita kerjakan.
Dan sikap yang juga seharusnya dimiliki oleh semua orang muslim adalah kerja keras seperti hadist Rasulullah SAW berikut “dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Moga, kisah Hj Mayuyani yang saya tulis bisa menginspirasi. Moga pula, kita selalu berbuat baik dan bersikap ramah kepada sesama. Kepada Bu Hj semoga selalu diberikan kesehatan, usaha yang dijalankan berkah. Berkah buat kita semua.

*)Penulis: Mahasiswa FE Prodi Ekonomi Islam UNU NTB

Editor: Masyhur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *