Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sepenggal Kisah Pedagang Lalapan

Oleh: Serlina Lestari*)

Serlina, salah satu mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama UNU NTB, usai berdiskusi dan wawancara dengan salah satu pelaku usaha lalapan di sekitar Bertais (nuhantb, ilustrasi)

JAMAK kita tahu, bahwa Lombok merupakan pulau yang terkenal antara lain keindahan wisata alamnya dan makanan khas tradisional, dan makanan khas populer lainnya, seperti Plecing, Lalapan (Pecel Lele), Seafood dengan kekhasan sambal dan bumbunya yang mak nyus. Juga berbagai macam bentuk sayuran seperti mentimun, kacang panjang, koll, dan kemangi sebagai penyedap makanan.

Tentang Lalapan, biasanya kita temukan, hanya berbahan dasar Ikan Lele. Akan tetapi, dengan perkembangan tekhnologi dan pesatnya kuliner di berbagai kalangan. Kini Lalapan mempunyai varian menu yang baru yaitu ayam, bebek, burung dara, ikan, dan tempe yang unik disebut tempe penyet. Tak ayal, pada saat ini Lalapan merupakan makanan yang sangat digemari oleh kalangan masyarakat pada umumnya.

Salah satu dari sekian banyak pedagang Lalapan, ada Bapak Ahmad Zohdi namanya. Kisah beliaulah yang ingin saya ulas di kolom Ragam pada media tercinta nuhantb.com.

Dalam suatu kesempatan jelang Isya, Minggu (23/3), Alhamdulillah saya berkesempatan berdiskusi untuk memperoleh informasi mengenai kisah beliau menggeluti bisnis/jualan Lalapan.

Sebelumnya, Pak Ahmad adalah seorang buruh harian lepas. Pekerjaan yang lain, juga pernah dicobanya. Pendapatannya pun tak seberapa. Dan memang, Pak Zuhdi sendiri, terlahir dari keluarga yang pas-pasan. Karenanya, beliau mesti kerja keras agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hari demi hari, minggu berganti bulan hinga tahun-tahun berjalan. Musim-musim pun berganti, barulah sekitar tahun 2012, Pak Ahmad mulai coba mengubah kehidupannya dengan menggeluti dunia berdagang, yakni jualan Lalapan.

Bapak tiga anak itu memilih Lokasi Jualan di Bertais Swadaya Kota Mataram. Supaya lokasi jualan Pak Ahmad mudah dikenal, usahanya ia beri nama Lalapan Mana Lagi. Unik juga ya…..hehe. Usut punya usut ternyata, nama itu ia comot dari nama awal putranya yaitu Lalapan Sulthon Abdullah.

Setelah sekian tahun berjualan dan saya tidak langsung sudah punya gambaran tentang usaha yang digelutinya, Pak Ahmad kian bekerja keras untuk mengembangkan bisnis lalapannya.

Dengan penuh optimisme, juga semangat dan kerja keras, kini pak Ahmad bisa membuka sebuah warung lagi di tempat yang sama dengan jarak yang cukup jauh dari tempat ia berdagang sebelumnya.

Pada tahun 2018, Pak Ahmad berhasil membuka sebuah cabang perdana untuk menjual Lalapannya dengan nama ‘’Mana Lagi’’ yang simbolnya orang menjadi ketagihan dengan masakannya.

Dalam memanjemen usahanya, Pak Ahmad tentu membutuhkan tenaga bantuan. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mempekerjakan orang. “Sekarang ada 4 orang tenaga, yang siap bantu saya,” ujar bapak tangguh yang kini mukim di Desa Bagik Polak Kabupaten Lobar.

Dalam hemat saya, pencapainnya yang sekarang, saya pikir Pak Ahmad sudah bisa dikatakan sukses. Alasannya, dari usaha yang pertama, ia menambah jumlah tempat jualan di lokasi yang lain. Ia juga sudah mampu menggaji 4 orang karyawannya. Shift kerja Pak Ahmad berikut karyawan mulai pukul 17.00 hingga 03.15.

Iklan

Ikhtiar yang Berbuah Sukses

Dalam menjalankan usahanya, pahit manis dilewati Pak Ahmad. Ada banyak tantangan dan hambatan yang dilaluinya terlebih penjual lalapan tak hanya satu, namun banyak.

Dan memang (pasang-surut) dalam dunia itu biasa dan pasti terjadi. “Tentu seorang wirausaha pernah mengalami untung rugi. Karena memang hal tersebut sudah merupakan resiko seorang wirausaha dalam berbisnis” tuturnya. Namun bagi pria tangguh itu, mau gak mau seorang wirausaha mesti ia hadapi. Sabar dan terus ikhtiar untuk mempertahankan usahanya adalah jalan terbaik.

Pak Ahmad berusaha mengubah keterpurukannya dengan mengatur jadwal jualan. Cara yang ia lakukan; 1) lebih awal dateng jualan; 2) diskon. Iya mengubah strategi berdagangnnya dengan memberi diskon kepada konsumen pada minuman. Misalnya yang awalnya harga 1 minuman 5 ribu, dijualnya seharga 3 ribu.

Bagi ayah tangguh itu, diskon itu cukup menuai daya tarik konsumen. Kepada penulis dia mengatakan : “Ini menguntungkan. Konsumen lebih banyak lagi dan tentu akan memudahkannya berjualan”.

Guna menyiasati ketika dagangannya cepat habis ia selalu menyediakan tambahan barang untuk dimasaknya dengan menyediakan stock seperti beras, buah-buahan. Juga ditambahkan stock minuman, sayur-sayuran dan terlebih lagi menyediakan ayam dan bebek perkilo. Jika dagangannya, belum terjual habis dan waktu berjualannya sudah selesai, beliau dapat mendinginkan bahannya di kulkas dan nanti akan dihangatkannya ketika mau berjualan. Tetapi dengan tetap memperhatikan kualitas.

Kini, usaha pak Ahmad yang hanya bermodal sekitar 1 juta, memberikan hasil yang memuaskan. Sehari saja income yang bisa diperoleh 1,5 juta.
Terlebih saat ini, Lalapan, masuk kategori makanan yang cukup bergizi dan sehat. Nasi yang mengandung karbohidrat, ayam, bebek, burung dara, ikan dan tempe (lauk-pauk) serta sayur-sayuran yang sehat cukup kiranya mewakili menu sehat yang enak dikonsumsi. Begitulah.

Dalam bisnis/usaha, kerja keras, sabar dan siap resiko mutlak dibutuhkan

Harapan penulis, kisah pak Ahmad dapat memotivasi kita berwirausaha.
Perlunya bekerja keras, sabar dalam menghadapi tantangan dan resiko, senantiasa bersyukur atas nikmat dan rezeki yang diberikan Tuhan, membiasakan diri suka berderma adalah beberapa hal yang perlu dicontoh.
Yuk cobain lalapan Mana Lagi? Milik pak Ahmad di sekitar Bertais Swadaya Kota Mataram. Sukses dan berkah selalu usahanya pak. Berkah juga buat pembaca.

*) Penulis: Mahasiswa Fakultas Ekonomi Prodi Ekonomi Islam UNU NTB

Editor: Masyhur (Dosen Pengampu)

One Reply to “Sepenggal Kisah Pedagang Lalapan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *