Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sepenggal Kisah Penjual Ikan Teri

Oleh: Novia Lestari*)

Novia Lestari saat berkunjung ke salah satu pelaku usaha (nuhantb, ilustrasi)

Seorang ibu rumah tangga, Masnah yang berasal dari Dusun Jor Desa Jerowaru Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur menekuni usaha jual beli ikan teri sejak tahun 1992, usaha tersebut dipilih karena himpitan ekonomi keluarga, di samping membantu suami mencari penghasilan tambahan.

Hingga saat ini, ibu 4 orang anak itu masih eksis di bidang usaha itu, dengan modal yang tidak terlalu besar mampu bertahan dengan 4 orang karyawan yang membantu mencari ikan di laut, sementara Masnah menjual barangnya di beberapa pasar yang ada di Kecamatan Keruak dan Jerowaru.

Meskipun demikian, dalam perjalanan usahanya, Masnah sering menemukan kendala, di antanya berkurangnya hasil tangkapan karena cuaca buruk serta cuaca yang tidak menentu yang menyebabkan ikan teri yang dijemur tidak bisa kering maksimal. Untuk itu, disiasati dengan cara dibantu kipas angin untuk menghindari pembusukan.

Saat ditanya masalah target penjualan, Masnah mengatakan, dirinya mengaku tak terlalu ambil pusing untuk pasang target. Baginya, penjualan tergantung seberapa banyak hasil tangkapan suami dan 4 orang karyawannya.

“Kadang-kadang kalau hasil tangkapan banyak, maka kita akan surflus, begitu juga sebaliknya, tapi kalau suami dan karyawan tidak pergi melaut, kami membeli ikan pada nelayan lain yang meskipun kita beli dengan harga yang lebih mahal dan mendapat untung yang sedikit,” tutur perempuan 55 tahun tersebut.

Untuk meningkatkan hasil penjualan, dirinya mengaku selalu dibantu oleh anaknya untuk menjual barangnya secara online dengan memanfaatkan media sosial Facebook maupun WhatApp.

Dengan kondisi seperti itu, tentunya kita harus mampu bertahan dengan pesaing yang ada di satu Dusun maupun pesaing pasar. Salah satunya dengan membuat program promosi dan membuatkan label pada produk serta membuat kemasan yang lebih menarik.

“Yang namanya kita berusaha, apalagi memiliki karyawan, pasti ada dan terjadi masalah namun tak sampai menjadi konflik karena jika ada permasalahan, akan kita selesaikan secara kekeluargaan, begitu juga ketiga ada permasalahan dengan orang lain dan pesaing usaha, karena jika dibiarkan akan sangat berpengaruh terhadap usaha kita,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Masnah menambahkan. Perkembangan tekhnologi saat ini juga memberikan pengaruh besar terhadap usaha saat ini, baik itu pengaruh positif dan negatif. Hal itu kami rasakan sejak kami mulai menjajakkan barang kami secara online.

Menurut istri Jahman itu, “Jika saya bandingkan antara pasar online dengan tradisional, menurut saya lebih jelas pelanggan di pasar tradisional namun pasar online memiliki jangkauan yang lebih luas namun masih banyak pengguna internet yang tidak bijak ketika bertransaksi jual beli.

Walaupun hingga saat ini kami masih menggunakan pasar online, tapi sejauh ini kami belum pernah memasang iklan, baik di Media cetak, Tv, elektronik maupun online, karena biayanya tidak sebanding dengan omset penjualan.

“Sementara untuk mengukur tingkat kepuasan konsumen terhadap produk kami, kami bisa menilai dengan jumlah permintaan yang relatif stabil, bahkan meningkat. Selain penilaian konsumen, sedikit dan banyaknya permintaan juga dipengaruhi kondisi ekonomi masyarakat, seperti yang terjadi hari ini saat wabah Covid-19 menyerang, kondisinya sangat berbeda,”ujarnya.

Oh ya, sukses dan berkah selalu usahanya ibu.

*) Penulis:Mahasiswi FE Prodi Ekonomi Islam UNU NTB. Sedang Belajar Menulis

Editor: Masyhur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *