Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Usaha makin Berkah Sebab Kehadiran Pesantren

Oleh: Anisa Alinda Fitriani*)

Alinda salah satu mahasiswi UNU NTB saat kegiatan praktik mandiri

GUNA memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, menjadi lumrah kemudian agar setiap kita berusaha dan bekerja.

Bekerja tak hanya menjadi karyawan, atau jadi pembantu tetapi juga bisa bertani, beternak dan sebagainya. Juga seseorang bisa menjadi pedagang.

Tampaknya, menjadi seorang pedagang, itulah yang dipilih Ibu Nur, guna memperoleh penghasilan (income). Dengan ini kemudian ia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Perempuan berusia 35 tahun itu, sehari hari berjualan kue kukus, kue cucur dan donat.

Ia biasanya berdagang di waktu sore hari di sekeliling komplek rumahnya, menelusuri tiap rumah dari gang ke gang di wilayah sekelilingnya dengan sarana dan prasarana jualan sangat sederhana.

Ia melakoni jualan kue, cukup lama. Bisa dikata perempuan dua anak itu berjualan sudah puluhan tahun.

Awal merintis usaha, modal Ibu Nur, pas-pasan. “Saya punya modal usaha waktu itu, uang di kantong Rp 500.000,” ujarnya kepada Penulis Kamis (18/6/2020).

Seiring waktu, hari berganti minggu. Bulan pun berganti. Tahun demi tahun terlewati. Usaha yang dirintis ibu Nur, perlahan tapi pasti, usahanya sedikit demi sedikit mulai meningkat.

Pada awalnya ibu Nur hanya memiliki modal 500 ribu untuk pembuatan kue dangangnnya di setiap harinya, dan hampir setiap hari ibu nur memperoleh keuntungan hingga 150 ribu. Dari sanalah ibu nur mulai terlihat lebih

Dengan sikap istiqomah dan kerja keras ia terus berusaha mengembangkan bisnis yang awalnya dirintisnya kecil-kecilan itu dengan membuat suatu kreasi yang baru. Kreasi yang dimaksud di sini, kue yang sebelumnya dibentuk sederhana dan biasa-biasa kemudian ia kemas lebih menarik, kreatif. Tujuannya untuk lebih menarik minat pelanggan.

Tak pelak kemudian, Sampai usaha ibu Nur kian mendapat tempat di hati pelanggan. Lantaran itu pula keuntungan jualan yang diperoleh meningkat dari biasa.

kegigihan, kesabaran serta kerja keras bisa membuat jidup kita berubah”

Kesuksesan istri tercinta dari seorang pria bernama Tatang Sanjaya, membangun usahanya pun semakin terlihat. “Semangat kerja keraslah yang membuat saya bertekad untuk terus berusaha mengubah perekonomian keluarga saya menjadi sedikit lebih baik, senyum anak-anak saya dan motivasi dari suami saya juga yang mampu membuat saya seperti ini” ujar ibu Nur. Tampaknya, kegigihan dan kesabaran serta usahahanya telah mampu membuatnya menjadi seorang pengusaha yang kaya raya.

Perempuan asal Penaban Loteng itu mengungkapkan, “Saya terlahir dari keluarga yang tidak berada dalam arti ekonominya rendah tetapi hal itu tidak membuat saya merasa patah semangat untuk mengubahnya menjadi lebih baik, bahkan saya selalu percaya bahwa suatu saat saya akan bisa merubah keadaan ini menjadi keadaan yang tidak bisa orang lain bayangkan”.

Berkah Kehadiran Pesantren

Tahun 2004 di sebelah rumahnya seorang tokoh agama (Ustadz) membangun sebuah pondok pesantren yang bernama Pondok Pesantren Nurul Qur’an Lendang Simbe. Pendiri pondok yang berada di sekitar tempat tinggalnya, adalah TGH.Sabaruddin Abdurrahman, M.Pd. Barangkali banyak yang kenal TGH Sabarudin? Iya Beliau adalah Seorang Qori’ Internasinal di Iran.

Membawa nama besar si pendiri, pondok itu pun kemudian dikenal banyak orang. Tak heran kemudian, santri dan santriwati berdatangan dari berbagai daerah.

Keberadaan pesantren yang terus berkembang ternyata menjadi berkah tersendiri bagi ibu Nur dan usahanya.

Dan hal itu ternyata membawa pengaruh besar bagi Ibu Nur yang selaku pengusaha kue yang jualan di tengah-tengah perkampungan warga, tepatnya di Lendang Simbe, desa Mertak Tombok Kecamatan Praya.

Semakin hari usahanya terlihat semakin berkembang, dengan adanya santri maka dagangannya akan semakin banyak pembelinya.

Hampir semua santri menyukai kue dagangannya bahkan kuenya itu sangat terkenal juga di kalangan santri, sampai pada akhirnya wali santripun ikut tau tentag kue buatan ibu Nur tersebut.

Hal itu semakin membuat keadaan dagangannya semakin bertambah. Setiap hari setiap sore bahkan malam ibu Nur selalu terlihat sibuk melyani pembeli dan pelanggannya. Hingga ibu Nur membuat karyawan laki-laki dan perempuan untuk membantu kesibukannya itu.

Tiga tahun kemudian ibu Nur membuat pemesanan secara COD dan karyawanyapun semakin bertambah. Hari demi hari kesuksesan ibu Nur semakin terlihat.

Lebih jauh dikemukakan, dengan adanya santri di sekeliling Ibu Nur pun cermat melihat peluang usaha. Ia pun kemudian mencoba untuk berjualan perlengkapan yang dibutuhkan santri seperti; perlengkapan mandi, baju, sepatu, tas, buku, bolpoin, dan perlengkapan sekolah lainnya. Ibu Nur menambah barang dagangannya dengan perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan mereka.

Dan tanpa di sadari dagagannya semakin terus berkembang. Dalam kaitan ini kemudian, secara tidak langsung ia sudah bisa memenuhi kebutuhan santri untuk berbagai keperluan.

Siapa sangka ibu Nur seorang pengusaha yang bermodalkan uang 500 ribu serta kepercayaan dan semangat yang luar biasa, kini telah membuat ia menjadi pengusaha sukses. Namanya pun banyak dikenal karena usaha dan kerja kerasnya.

Meski demikian, Ibu Nur tak pernah lupa untuk selalu mendermakan sebagian hartanya dengan memberi santunan untuk anak yatim.

*) Penulis: Mahasiswi FE Prodi Ekonomi Islam UNU NTB. Sedang belajar menulis.

Editor: Masyhur

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *