Thanks for Sharing
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Usaha Tak Pernah Khianati Hasil
Oleh: Hasbiatun*)

Salah satu mahasiswa FE UNU NTB, dalam kegiatan praktik mandiri bersama  pedagang cilok yang sukses menguliahkan anak-anaknya hingga sarjana (nuhantb, ilustrasi)

Cerita-cerita sukses yang menginspirasi banyak orang datang dari berbagai kalangan. Salah satunya dari pedagang cilok sukses bernama H Kamal yang kerap disapa pak Lina. Dulunya penghasilannya tak seberapa, namun sekarang hasil jualan cilok terus meningkat.

“Usaha memang tidak mengkhianati hasil” Kalimat itulah yang tepat untuk menggambarkan kisah pedagang cilok itu. Berawal dari usaha kecil-kecilan lambat laun usaha yang dirintisnya sejak 1998 berhasil dikengmbangkannya hingga menjadi besar.

Rabu (25/3/ 2020), saya berkesempatan mampir di kediamannya, di desa Suntalangu Kecamatan Suela. Saat itu, ayah 4 orang anak itu baru pulang dari pasar.

Ketika saya menyapa, ia tersenyum. Menerima kedatangan saya dengan senang hati. “Bersediakah bapak berbagi informasi, cerita kepada saya?,” tanyaku. “Oooh silahkan saja nak, dengan senang hati,” jawabnya sembari tersenyum.

Berkat kerja keras, pak Lina bisa memperoleh hasil dan manfaat yang memuaskan. Selain dapat memperbaiki hidupnya, ia juga bisa membuat rumah, membiayai anak-anaknya sekolah,

 

Sehari-hari Pak Lina menghabiskan waktunya berjualan Cilok sejak puluhan tahun lalu. Ia mulai berjualan pagi dan sore hari. Untuk shift pagi, Pak Lina berangkat dari rumah sejak pukul 06.00 hingga pukul 08.00 pagi. Menurutnya, usai jualan Cilok kadang lebih dari itu. Sepulang dari itu, sisa waktu ia gunakan untuk pergi ke pasar membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Ia juga dibantu istri tercintanya.

Sedangkan shift sore, berangkat pukul 16.30 hingga petang pukul 21.00.
Dalam sehari, suami dari itu perempuan bernama Rail itu memproduksi Cilok sekitar empat hingga lima kilo tepung plus bahan-bahan lainnya. Nah ketika sudah siap untuk dibawa keliling atau dijual, itulah yang dijajakan pak Lina kepada pembeli. Kepada penulis, Pak Lina juga cerita, bahwa untuk membuat Cilok, tak cukup hanya dengan bahan-bahan seperti tepung yang disebut tadi, tetapi juga terdapat bahan-bahan lain. “Ada tepung terigu, tepung kanji, bawang putih, garam, penyedap rasa, masako, daging ayam, daging sapi,” ujarnya.
Sementara untuk memproduksi (membuat) Cilok sekitar pukul 01.00 hingga pukul 03.20.

Bisa pembaca bayangkan, bahwa tak ada waktu yang disia-siakan pak Lina dalam kesehariannya.
Bagi Pak Lina, karena sudah lama berjualan Cilok, tentu pahit manis, suka dan duka, telah ia rasakan bertahun-tahun.

Anak Pak Lina Semua Sarjana
Pak Lina cukup ulet dan tekun berusaha. Ia juga tampaknya konsisten dengan usaha yang dirintisnya.

Pak Lina, juga termasuk sosok pedagang yang cermat mengatur keuangan. Hasil jualannnya, sebagian disisihkannya untuk kebutuhan sehari-hari, sisanya ia tabung dan simpan. Selain itu juga ia sisihkan untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Berkat semua itu, baik karena tekun dan uletnya berusaha serta cermat mengelola keuangan, tak heran ia bisa memperoleh hasil dan manfaat yang memuaskan. Selain dapat memperbaiki hidupnya, ia juga bisa membuat rumah, membiayai anak-anaknya sekolah, bisa membeli sepeda motor serta yang lainnya. Dan yang luar biasa dan sangat mengesankan dari pak Lina, ia juga dapat melaksanakan ibadah haji. Kren kan pembaca.wkwkwk….
“Tahun berapa berangkat haji pak,” tanyaku penasaran. “Alhamdulillah saya berangkat pada tahun 2017,” ujarnya.

Pembaca juga perlu tahu, hal yang luar biasa dari sosok ayah bernama pak Lina adalah, meski ia hanya seorang pedagang Cilok, ia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga tuntas menjadi sarjana. Bahkan ada anaknya yang selesai S2.

“Saya punya 4 orang anak. 2 anak laki-laki dan 2 perempuan. Yang pertama Lina. Alhamdulillah ia sudah darjana, lulusan S1. Sekarang sudah menikah. Anak ke dua, lanjut Pak Lina, bernama Yudi, Alhamdulillah juga sedang menyelesaikan S2 nya. Anak ketiga bernama Vidia. Pendidikan S1 juga sudah kelar. Nah baru yang terakhir bernama Yazir, masih duduk di bangku SMP kelas 3.

Banyak hal-hal menarik yang bisa kita jadikan inspirasi dari sepenggal kisah pedagang cilok keliling. Misalnya bermodal usaha dan keyakinan, beliau dengan istrinya memutuskan untuk menekuni usaha ini, disebabkan kekuatan dan keyakinan yang tertanam dalam diri mereka berdua.
Meskipun dengan berdagang cilok serta harga yang murah dan saingan yang semakin banyak, bapak Lina beserta istrinya tidak pernah mengeluh sama sekali, Alhamdulillah dengan semangat dan ketekunan beliau, beliau mampu menghidupi anak dan istrinya.

*) Penulis: Mahasiswi FE Prodi Ekonomi Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB. Sedang belajar menulis.

 

Editor: Masyhur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *